Cari Blog Ini

Selasa, 27 Juli 2010

  1. Bagaimana hukum menikahkan perempuan yang sedang hamil?
  2. Bolehkah wanita tersebut dikumpuli (dijimak) setelah melangsungkan akad nikah?
  3. Bagaimanakah status anak yang dilahirkan itu (waris)?
  4. Bila anak yang dilahirkan itu perempuan siapa wali nikahnya?

Jawaban:

  1. Wanita yang hamil di luar nikah boleh dinikahkan oleh walinya, karena kehamilan tersebut tidak dihormati oleh agama.
  2. Wanita tersebut boleh dijimak oleh suami yang baru menikahinya.
  3. Status dari anak yang lahir dari wanita tersebut hanya dapat menjadi ahli waris dari ibunya saja dan tidak kepada bapaknya yang menikahi ibunya setelah hamil, meskipun benih yang menjadi anak tersebut adalah benihnya sendiri (bila yang mengawini adalah yang menghamili).
  4. Jika anak tersebut perempuan, maka yang menjadi walinya adalah hakim. Bahkan andaikata laki-laki yang membuahi ibunya itu tidak mengawini ibunya, maka jika anak perempuan yang lahir dari benihnya tersebut sudah dewasa, laki-laki yang benihnya menjadi anak perempuan tersebut (ayah biologis) boleh mengawininya.
  5. Tentang dasar hukumnya, kami persilahkan meneliti dalil-dalil berikut ini.
    1. Fiqh ala Madzahibil Arbaah juz 4 halaman 533

      أَمَّا وَطْءِ الزِّنَا فَإنَّهُ لاَ عِدَّةَ فِيْهِ وَيَحِلُّ التَّزْوِيْجُ بِالحَامِلِ مِنَ الزِّنَا وَوَطْءِهَا وَهِيَ حَامِلٌ عَلَى الأصَحِّ وَهَذَا عِنْدَ الشَّافِعِى

      Adapun hubungan seksual dari perzinaan, maka sesungguhnya tidak ada 'iddah padanya. Halal mengawini wanita yang hamil dari perzinaan dan halal menyetubuhinya sedangkan wanita tersebut dalam keadaan hamil menurut pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini adalah pendapat Syafii.

    2. Al-Muhadzdzab juz 2 halaman 113

      وَيَجُوزُ نِكَاحُ الحَامِلِ مِنَ الزِّنَا لأَنَّ حَمْلَهَا لاَيَلْحَقُ بِأَحَدٍ فَكَانَ وُجُودُهُ كَعَدَمِهِ

      Boleh menikahi wanita hamil dari perzinaan, karena sesungguhnya kehamilannya itu tidak dapat dipertemukan kepada seseorangpun, sehingga wujud dari kehamilan tersebut adalah seperti ketiadaannya.

    3. Bughyatul Musytarsyidin halaman 201

      (مَسْأَلَةُ ش) وَيَجُوزُ نِكَاحُ الحَامِلِ مِنَ الزِّنَا سَوَاءُ الزَّانِى وَغَيْرِهِ وَوَطْءُهَا حِيْنَئِذٍ مَع الكَرَاهَةِ

      (masalah shin); Boleh menikahi wanita yang hamil dari perzinaan, baik oleh laki-laki yang menzinainya atau oleh lainnya dan menyetubuhi wanita pada waktu hamil dari zina tersebut adalah makruh.

    4. Mughni Muhtaj juz 3 halaman 152

      لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ... فَالسُّلْطَانُ وَلِيٌّ لِمَنْ لاَ وَلِيَ لَهُ.

      ... karena sabda Nabi saw maka sultan/pemerintah adalah wali dari orang yang sama sekali tidak ada wali baginya.

Hidup adalah Proses

“Hidup adalah proses. Proses adalah perubahan. Dan perubahan itulah yang menandakan kita hidup”. 13 suku kata dalam kalimat ini menjadi filosofi Sekolah Alam “Kandank Jurank Doank” yang saya dirikan sejak tahun 1993 bermarkas di Angkasa Pura. Hingga di usia yang ke tiga tahun, sampai tahun 1995 waktu itu jumlah siswanya hanya sembilan anak. Paling banyak empat belas anak. Pada tahun 1997 saya pindah ke Komplek Alvita, Sawah Baru, Ciputat dengan jumlah siswa sekitar dua puluh lima anak. Kemudian dibuka lagi pada tahun 2005 dengan jumlah siswa lebih dari seratus anak. Walau dengan jumlah siswa yang relatif sedikit, tapi tidak ada halangan bagi saya untuk tetap saling belajar dan berproses, pun berjuang mengembangkan dunia kreatifitas pada anak-anak. Karena bagi saya anak-anak adalah penentu arah perjalanan bangsa. Mereka adalah embrio, cikal-bakal, bibit-tunas, kemana mata anak panah bangsa ini akan melesat sangat tergantung kepada mereka. Jadi kepada merekalah kita menitipkan bangsa ini. Apakah akan menjadi bangsa peniru, bangsa penjiplak atau bangsa pencipta.

Too Saved movies

Dan Alhamdulillah karena kerja keras crew Komunitas Kreatifitas “Kandank Jurank Doank”, dukungan masyarakat setempat, juga kerja sama dari beberapa Komunitas, Lembaga dan Instansi, dan tentunya atas Izin dan Ridlo Alloh, sekarang jumlah siswanya mencapai kurang lebih 1.500 anak. Dengan fasilitas Lapank Doank 800 orang. Kampunk Doank 450 orang. Perpustakaan Doank 70 orang. Kandank Jurank Doank 500 orang. Juga ada Panggung, Musholla, Studio, Kolam ikan, Arena bermain, Kelas A dan Kelas B, dan sekarang ini dalam Proses finishing pembangunan Kolesium yang bisa menampung kurang lebih 600 orang.

Semua hal yang ada di Sekolah Alam “Kandank Jurank Doank” sekarang ini adalah sebuah proses perjalanan panjang yang bisa terwujud karena mimpi. Bukan karena kebetulan atau malas-malasan. Apalagi sebuah pencapaian secara instan. Seorang ilmuwan seperti Thomas Alfa Edisson membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuktikan keilmiahan dari hasil penelitiannya. Seperti halnya gerak seorang pemain akrobatik adalah sebuah gerak yang dilakukan berulang-ulang, beratus, beribu, atau bahkan berjuta kali sampai benar-benar bisa menyatu dengan tubuh pemain akrobatik tersebut.

Jadi, sesungguhnya orang yang takut berproses dan mencari perubahan (baca : meraih mimpi) menandakan kemiskinan hati dan jiwa. Sekolah Alam “Kandank Jurank Doank” adalah barisan anak-anak dan orang-orang yang mau belajar, dan ingin mengubah Indonesia dengan ilmu. Dan kami hidup dengan ilmu itu. Karena banyak cinta di sini. Cinta yang membebaskan. Cinta yang tak mudah dibelokkan oleh kemiskinan dan kebodohan

Jika ingin menemukan rahasia yang baru, maka kita harus bisa menemukan rahasia sebelumnya. Jika tidak merasakan nikmatnya sakit, maka kita tidak akan bisa merasakan indahnya sembuh. Jika kita sudah bisa melihat sesuatu yang terlihat, maka Alloh akan memperlihatkan kita sesuatu hal yang tidak terlihat.

* Krippendorf’s Tribe movie

Filosofi Snow Ball

Red trailer

Ni’matani maghbunun fihima katsirum minannaasi ashihhatu wal faragh

(H.R. Bukhori).

Artinya : Ada 2 nikmat yang dirugikan, dihabiskan oleh kebanyakan manusia yaitu : nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang.

Picnic the movie
Conjurer release

Barangkali filosofi “Snow Ball” sangatlah tepat untuk digunakan sebagai analogi proses hidup. Ketika bola salju menggelinding dari atas, maka perlahan-lahan bola salju itu ketika turun ke bawah akan semakin membesar dan akibat gerakan ataupun rotasi itu bisa menghasilkan gumpalan bola salju yang sangat padat. Krippendorf’s Tribe trailer

Semakin bertambah usia seseorang, harusnya semakin lebih berisi dari segi pengalaman, ilmu, juga kepekaan emosional dan spiritual. Seandainya semakin bertambah usia seseorang tetapi semakin mengalami dekadensi moral dan spiritual, barangkali orang itu bisa dikategorikan sebagai salah satu manusia yang merugi atas 2 nikmat Allah.

Ketika masih duduk di bangku sekolah, saya dikenal sebagai siswa yang sangat badung, urakan, gemar menyontek, dan suka bolos. Bahkan julukan badung ini masih melekat ketika saya sudah menginjak remaja. Tapi perlu dicatat, banyak anak yang menjadi dewasa lantaran bermain musik, bersosialisasi dalam forum kerohanian, aktif di sebuah komunitas, rajin membaca, ikut kegiatan olah raga, atau karena kegiatan yang berdampak positif lainnya. Lantas, sebuah proses hidup banyak memberikan warna perubahan dalam hidup saya. Hingga ahirnya saya menemukan jawaban hidup dalam islam.

Ternyata jadi seorang Muslim yang kaffah itu harus mampu melakukan tiga hal. Pertama, melaksanakan semua perintah Allah SWT. Kerjakan rukun Islam. Kalau orang sudah mengerjakan rukun Islam, pasti orang itu akan menjadi kaya hati dan kaya harta. Selanjutnya kalau sudah kaya, maka ia harus bangun masjid, mushalla, rumah sakit, lembaga pendidikan. Pokoknya yang ada hubungannya dengan kemaslahatan orang banyak. Kedua, sebisa mungkin jauhi semua segala larangan-Nya. Ketiga, melakukan ibadah sunnah yang akan menyulam ibadah-ibadah yang kurang.

Demikian pula dengan rajin bersilaturrahim dan bersedekah. Karena dengan rajin bersilaturrahim dan bersedekah, Insya Alloh kita akan terhindar dari bencana, sakit, atau kehilangan. Yang tak kalah penting harta kita pun akan berkah dan terus bertambah. Seperti filosofi “Snow Ball” ketika mengelinding turun ke bawah akan semakin membesar dan akibat gerakan ataupun rotasi itu bisa menghasilkan gumpalan bola salju yang sangat padat.

Itulah realita hidup! Di mana hukum alam dan kekuasaan Tuhan begitu tertata dengan rapi dan sempurna. Semua yang saya miliki (popularitas, harta, dan sekolah alam “Kandank Jurank Doank”) ini hanyalah titipan-Nya. Tempat bernaung payung kasih tak terbeli. Sebuah anugerah yang tiada terbayar yang harus kita jaga dan lestari. Dan suatu saat kepada-Nya juga akan kembali.

Seandainya teman-teman semua punya mimpi, pesan saya jangan ragu-ragu untuk mengejar apa mimpi itu. Jangan sampai kalian terbangun sebelum mimpi itu bisa kalian raih. Jangan sekali-kali bilang bahwa hidup ini biarkan mengalir apa adanya. Tidak perlu muluk-muluk punya mimpi dan target. Karena dalam falsafah Budhis, arti harfiah dari mengalir itu sendiri ada 2. yaitu mengalir yang terarah. Dan mengalir yang tidak terarah.

Ghosts of Mars buy

Jika semua orang berfikir kalau matahari itu terbit dari timur dan terbenam di sebelah barat karena takdir, maka di dunia ini tidak akan muncul ilmu pengetahuan. Dunia ini akan dipenuhi orang-orang yang malas dan bodoh. Orang hidup di dunia itu harus punya prinsip. Jika orang hidup tidak punya prinsip namanya bukan orang hidup. Tapi orang sakit! Charlie Wilson’s War download 30,000 Leagues Under the Sea dvd

Oleh karena itu, persiapkan hati dan pikiran. Mantapkan sikap dan jangan takut untuk bilang “TIDAK…!” pada segala hal yang mengarah pada kebobrokan moral bangsa. Bukankah ketika masuk islam pertama kali Allah mengajari kita untuk berkata “TIDAK.” Laa ilaaha illallaah (Tidak ada Tuhan selain Allah).

Apakah kelak kita akan menjadi bangsa peniru, bangsa penjiplak atau bangsa pencipta, semua tergantung pada kalian semua. Terlebih lagi tergantung pada anak-anak yang notabene adalah penentu arah perjalanan bangsa. Mereka adalah embrio, cikal-bakal, bibit-tunas, kemana mata anak panah bangsa ini akan melesat sangat tergantung kepada mereka. Jadi kepada merekalah kita menitipkan mimpi bangsa ini.

Jika kita malas akan tertindas. Jika kita bodoh akan dicemooh. Jika kita alpa akan tergoda. Jika kita lemah akan dijajah. Jika kita ragu akan ditipu.

Tempora muntatur etnos muntamur in illis. (Waktu berubah dan kita berubah dengan waktu). Wallohu ‘Alam…

oleh : dikDOANK

Senin, 26 Juli 2010

Mohon penjelasan bagaimana hukumnya dalam agama, bila ada satu jamaah salat yang terdiri dari dua orang imam?

Hal ini terjadi di tempat kami, di Surabaya. Tepatnya di Musalla Al-Mukarromah di mana saat takmir musalla menjadi imam salat, ada salah seorang sarjana lulusan perguruan tinggi Islam negeri di Surabaya, membuat jamaah sendiri dengan pengikutnya di belakang imam pada saat rakaat pertama sedang berlangsung, sehingga jamaah salat menjadi kacau. Harus mengikuti imam yang mana, mengingat kedua imam itu saling membaca surat/ayat dengan suara keras.

Jawaban:

Sebelum kami menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu kami beritahukan bahwa sejak zaman Rasulullah saw sampai dengan zaman Khulafaurrasyidin, yang menjadi imam di Masjid adalah kepala negara. Sehingga dalam kitab-kitab fiqh istilah "imam" terutama dalam pengangkatan amil zakat adalah berarti kepala negara.

Dengan demikian, imam salat berjamaah dalam sebuah masjid atau musalla dalam suatu waktu kita gambarkan sebagai seorang kepala negara pada suatu daerah pada waktu tertentu.

Jadi jika dalam sebuah musalla ada seorang imam telah melakukan salat berjamaah, kemudian ada rombongan lain yang datang ke musalla tersebut tidak mengikuti jamaah yang telah ada melainkan melakukan jamaah salat sendiri di musalla tersebut pada waktu yang bersamaan, maka imam beserta jamaah yang kedua itu dapat diibaratkan sebagai orang-orang yang mendirikan negara dalam satu negara pada waktu yang bersamaan atau pemberontak. Seperti Kartosuwiryo yang mendirikan negara Islam di negara RI yang saha.

Perlu pula kami beritahukan bahwa apa yang dilakukan oleh sang sarjana di musalla Al Mukarromah tersebut adalah merupakan bukti bahwa dia kurang bisa menguasai bahasa al Quran, sehingga tidak dapat memahami kitab hadist dan fiqh. Sebab seandainya dia pandai ilmu agama, maka:

1. Jika memang dia orang yang alim, sedangkan imam yang ada berbeda madzhab, dia memang tidak sah bermakmum kepada imam yang berbeda madzhab tersebut. Akan tetapi dia tidak akan bertindak menjadi imam untuk melakukan salat jamaah sendiri beserta pengikutnya sebelum imam yang pertama selesai salam.
2. Atau misalnya imam dari takmir musalla Al Mukarromah tersebut orang yang tidak pandai agama (tidak bisa baca fatihah) sedang sang sarjana merasa sangat alim, sehingga merasa tidak sah makmum kepada imam dari takmir, diapun tidak akan melakukan salat berjamaah sendiri dalam satu tempat pada waktu yang sama (silakan membaca kitab Kasifatus Saja bab salat berjamaah, kitab al Muhadzdzab juz I hal 98 tentang orang yang patut menjadi imam dalam salat berjamaah, kitab Kifayatul Akhyar juz I hal 133 tentang rombongan yang baru datang ketempat orang-orang yang sedang melakukan salat berjamaah dan kitab I'anatut Thalibin Juz 2 hal 11 tentang cara melakukan salat berjamaah sendiri jika tidak setuju dengan imam yang telah ada).

Di sini kami tidak perlu menuliskan ibarat dari kitab tersebut, karena khawatir dianggap menggurui. Kepada jamaah musalla al Mukarromah, kami himbau supaya makmum kepada imam yang pertama. Sedang imam yang kedua harus dihindari, karena dia tergolong pemecah belah ummat.

ABAH JAZULI

NISFU SYA'BAN

Di masyarakat kita masih banyak orang yang belum mengetahui tentang hal ihwal Nisfu Sya'ban; baik berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di dalamnya maupun dasar yang kuat berkaitan dengan perintah melakukan ibadah. Sebab, kenyataan di masyarakat banyak orang kalau menghadapi malam Nisfu Sya'ban melakukan berbagai ibadah. Di sisi lain, ada orang yang berpendapat bahwa melakukan ibadah seperti membaca Yasin, salat malam dan sebagainya tidak ada dalil yang kuat. Untuk itu mohon penjelasan mengenai duduk perkara dari ibadah Nisfu Sya'ban.

Jawaban:

Pada malam tanggal 15 Sya'ban (Nisfu Sya'ban) telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam yang tidak boleh kita lupakan sepanjang masa. Di antaranya adalah perintah memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas yang berada di Palestina ke Ka'bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah pada tahun ke delapan Hijriyah.

Sebagaimana kita ketahui, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah yang menjadi kiblat salat adalah Ka'bah. Kemudian setelah beliau hijrah ke Madinah, beliau memindahkan kiblat salat dari Ka'bah ke Baitul Muqoddas yang digunakan orang Yahudi sesuai dengan izin Allah untuk kiblat salat mereka. Perpindahan tersebut dimaksudkan untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi dan untuk menarik mereka kepada syariat al-Quran dan agama yang baru yaitu agama tauhid.

Tetapi setelah Rasulullah saw menghadap Baitul Muqoddas selama 16-17 bulan, ternyata harapan Rasulullah tidak terpenuhi. Orang-orang Yahudi di Madinah berpaling dari ajakan beliau, bahkan mereka merintangi Islamisasi yang dilakukan Nabi dan mereka telah bersepakat untuk menyakitinya. Mereka menentang Nabi dan tetap berada pada kesesatan.

Karena itu Rasulullah saw berulang kali berdoa memohon kepada Allah swt agar diperkenankan pindah kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka'bah lagi, setelah Rasul mendengar ejekan orang-orang Yahudi yang mengatakan, "Muhammad menyalahi kita dan mengikuti kiblat kita. Apakah yang memalingkan Muhammad dan para pengikutnya dari kiblat (Ka'bah) yang selama ini mereka gunakan?"

Ejekan mereka ini dijawab oleh Allah swt dalam surat al Baqarah ayat 143:

وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِى كُنْتَ عَلَيْهَا إلاَّ لِيَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ.

Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…

Dan pada akhirnya Allah memperkenankan Rasulullah saw memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka'bah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 144.

Diantara kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam pada malam Nisfu Sya'ban adalah membaca surat Yasin tiga kali yang setiap kali diikuti doa yang antara lain isinya adalah:

"Ya Allah jika Engkau telah menetapkan aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab (buku induk) sebagai orang celaka atau orang-orang yang tercegah atau orang yang disempitkan rizkinya maka hapuskanlah ya Allah demi anugerah-Mu, kecelakaanku, ketercegahanku, dan kesempitan rizkiku.."

Bacaan Yasin tersebut dilakukan di masjid-masjid, surau-surau atau di rumah-rumah sesudah salat maghrib.

Sebagian dari orang-orang yang mengaku ahli ilmu telah menganggap ingkar perbuatan tersebut, menuduh orang-orang yang melakukannya telah berbuat bid'ah dan melakukan penyimpangan terhadap agama karena doa dianggap ada kesalahan ilmiyah yaitu meminta penghapusan dan penetapan dari Ummul Kitab. Padahal kedua hal tersebut tidak ada tempat bagi penggantian dan perubahan.

Tanggapan mereka ini kurang tepat, sebab dalam syarah kitab hadist Arbain Nawawi diterangkan bahwa takdir Allah swt itu ada empat macam:

  1. Takdir yang ada di ilmu Allah. Takdir ini tidak mungkin dapat berubah, sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda:

    لاَيَهْلِكُ اللهُ إلاَّ هَالِكًا

    "Tiada Allah mencelakakan kecuali orang celaka, yaitu orang yang telah ditetapkan dalam ilmu Allah Taala bahwa dia adalah orang celaka."

  2. Takdir yang ada dalam Lauhul Mahfudh. Takdir ini mungkin dapat berubah, sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ra'du ayat 39 yang berbunyi:

    يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ.

    "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang dikehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz)."

    Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa beliau mengucapkan dalam doanya yaitu "Ya Allah jika engkau telah menetapkan aku sebagai orang yang celaka maka hapuslah kecelakaanku, dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia".

  3. Takdir dalam kandungan, yaitu malaikat diperintahkan untuk mencatat rizki, umur, pekerjaan, kecelakaan, dan kebahagiaan dari bayi yang ada dalam kandungan tersebut.
  4. Takdir yang berupa penggiringan hal-hal yang telah ditetapkan kepada waktu-waktu yang telah ditentukan. Takdir ini juga dapat diubah sebagaimana hadits yang menyatakan: "Sesungguhnya sedekah dan silaturrahim dapat menolak kematian yang jelek dan mengubah menjadi bahagia." Dalam salah satu hadits Nabi Muhammad saw pernah bersabda,

    إنَّ الدُّعَاءَ وَالبَلاَءَ بَيْنَ السَّمَاءِ والاَرْضِ يَقْتَتِلاَنِ وَيَدْفَعُ الدُّعَاءُ البَلاَءَ قَبْلَ أنْ يَنْزِلَ.

    "Sesungguhnya doa dan bencana itu diantara langit dan bumi, keduanya berperang; dan doa dapat menolak bencana, sebelum bencana tersebut turun."

Diantara kebiasaan kaum muslimin pada malam Nisfu Sya'ban adalah melakukan salat pada tengah malam dan datang ke pekuburan untuk memintakan maghfirah bagi para leluhur yang telah meninggal dunia. Kebiasaan seperti ini adalah berdasar dari amal perbuatan atau sunnah Nabi Muhammad saw. Antara lain ada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Musnadnya dari Sayidah Aisyah RA, yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

"Pada suatu malam Rasulullah saw berdiri melakukan salat dan beliau memperlama sujudnya, sehingga aku mengira bahwa beliau telah meninggal dunia. Tatkala aku melihat hal yang demikian itu, maka aku berdiri lalu aku gerakkan ibu jari beliau dan ibu jari itu bergerak lalu aku kembali ke tempatku dan aku mendengar beliau mengucapkan dalam sujudnya: "Aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu; aku berlindung dengan kerelaan-Mu dari murka-Mu; dan aku berlindung dengan Engkau dari Engkau. Aku tidak dapat menghitung sanjungan atas-Mu sebagaimana Engkau menyanjung atas diri-Mu." Setelah selesai dari salat beliau bersabda kepada Aisyah, "Ini adalah malam Nisfu Sya'ban. Sesungguhnya Allah 'azza wajalla berkenan melihat kepada para hamba-Nya pada malam Nisfu Sya'ban, kemudian mengampunkan bagi orang-orang yang meminta ampun, memberi rahmat kepada orang-orang yang memohon rahmat, dan mengakhiri ahli dendam seperti keadaan mereka."

Nabi Muhammad saw pada malam Nisfu Sya'ban berdoa untuk para umatnya, baik yang masih hidup maupun mati. Dalam hal ini Sayidah Aisyah RA meriwayatkan hadits:

إنَّهُ خَرَجَ فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ إلَى الْبَقِيعِ فَوَجَدْتُهُ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالشُّهَدَاءِ.

"Sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah keluar pada malam ini (malam Nisfu Sya'ban) ke pekuburan Baqi' (di kota Madinah) kemudian aku mendapati beliau (di pekuburan tersebut) sedang memintakan ampun bagi orang-orang mukminin dan mukminat dan para syuhada."

Banyak hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, at-Tirmidzi, at-Tabrani, Ibn Hibban, Ibn Majah, Baihaqi, dan an-Nasa'i bahwa Rasulullah saw menghormati malam Nisfu Sya'ban dan memuliakannya dengan memperbanyak salat, doa, dan istighfar.

دُعَاءْ قُنُوتْ نَازِلَةْ

اَللَّهُمَّ اهْدِنِي (نَا) فِيمَن هَدَيْتَ . وَعَافِنِي (نَا) فِيمَن عَافَيْتَ . وَتَوَلَّنِي (نَا) فِيمَن تَوَلَّيْتَ . وَبَارِكْ لِي (لَنَا) فِيمَا أَعْطَيْتَ . وَقِنِي (نَا) وَاصْرِفْ عَنِّي (نَّا) بِرَحْمَتِكَ شَرَّ مَا قَضَيْتَ . فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَىٰ عَلَيْكَ . وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَن وَّٱلَيْتَ . وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ . تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ . فَلَكَ ٱلْحَمْدُ عَلَى مَاقَضَيْتَ . أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ (إِلَيْكَ) . اَللَّهُمَّ ٱلْعَنِ ٱلْكَفَرَةَ وَٱلْمُبْتَدِعَةَ وَٱلْمُشْرِكِينَ وَٱلْمُفْسِدِينَ . ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَآءَكَ . اَللَّهُمَّ اشْدُدُ وَطْأَتَكَ عَلَيْهِمْ وَاجْعَلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ . اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمَاتِهِمْ . اَللَّهُمَّ بَدِّدْ شَمْلَهُمْ . اَللَّهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ . اَللَّهُمَّ زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ . وَأَنزِلْ عَلَيْهِمْ بَأْسَكَ ٱلَّذِى لاَ تَرُدُّهُ عَنِ ٱلْقَوْمِ ٱلْمُجْرِمِينَ . اَللَّهُمَّ ا۟نصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . اَللَّهُمَّ ا۟رْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . اَللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ . اَللَّهُمَّ سَلِّمْنَا وَٱلْمُسْلِمِينَ . وَعَافِنَا وَٱلْمُسْلِمِينَ . وَقِنَا وَإِيَّاهُمْ مِن شَرِّ مَصَآئِبِ ٱلدُّنْيَا وَٱلدِّينِ . اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا . اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا ٱلْغَلآءَ وَٱلْبَلآءَ وَٱلْوَبَآءَ وَٱلْفَحْشَآءَ وَٱلْجَدْبَ وَٱلْقَحْطَ وَٱلْفِتَنَ وَالْأَزْمَةَ وَٱلْمُنكَرَ، وَٱلسُّيُوفَ ٱلْمُخْتَلِفَةَ وَٱلشَّدَآئِدَ وَٱلْمِحَنَ ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ ، مِنۢ بَّلَدِنَا هَٟذَا خَآصَّةً ، وَمِنۢ بُّلْدَانِ ٱلْمُسْلِمِينَ عَآمَّةً إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . وَصَلَّى اللَّهُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِالنَّبِيِّ ٱلْأُمِّيِّ وَعَلَىٰ آلِهِۦ وَصَحْبِهِۦ وَسَلَّمَ وَٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٟمِلِينَ

Ya Allah, berilah kami petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. Sejahterakanlah kami sebagaimana orang yang telah Engkau sejahterakan. Uruslah kami sebagaimana orang yang telah Engkau urus. Berilah kami berkah pada apa saja yang telah Engkau berikan. Jagalah kami dan lenyapkan dari kami berkat rahmat-Mu kejelekan dari apa yang telah Engkau putuskan.

(Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang memutuskan dan tidak diputuskan atas-Mu. Sesungguhnya tidak akan menjadi hina orang yang telah Engkau urusi. Dan tidak akan menjadi mulia orang yang telah Engkau musuhi. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau. Bagi-Mu segala puji atas apa saja yang telah Engkau putuskan. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu).

Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir, orang-orang musyrik dan orang-orang yang membuat kerusakan, yaitu mereka yang menghalang-halangi jalan-Mu, mendustakan para utusan-Mu, dan memerangi para kekasih-Mu. Ya Allah, keraskanlah injakan-Mu atas mereka dan jadikanlah siksa dan 'adzab-Mu pada mereka. Ya Allah, jadikanlah berselisih ucapan-ucapan di antara mereka. Ya Allah, cerai beraikan persatuan mereka. Ya Allah, koyak-koyaklah jama'ah mereka. Ya Allah, goncangkanlah kaki-kaki mereka; turunkanlah pada mereka siksa-Mu yang tidak Engkau kembalikan dari kaum yang durhaka. Ya Allah, tolonglah ummat dari pemimpin kami Nabi Muhammad.

Ya Allah, berilah rahmat ummat dari pemimpin kami Nabi Muhammad. Ya Allah, berilah jalan keluar kesulitan ummat dari pemimpin kami Nabi Muhammad. Ya Allah, selamatkanlah kami dan orang-orang muslim. Sejahterakanlah kami dan orang-orang muslim. Peliharalah kami dan mereka dari kejelekan musibah-musibah dunia dan agama. Ya Allah, kumpulkanlah antara hati-hati kami dan damaikanlah perselisihan di antara kami. Ya Allah, tolaklah dari kami harga yang mahal, bencana, wabah penyakit, perbuatan keji, paceklik, kelaparan, fitnah-fitnah, krisis, kemungkaran, pedang-pedang yang bertentangan, kesulitan-kesulitan dan ujian-ujian, apa yang nampak dari padanya dan apa yang tidak nampak, dari negeri kami pada khususnya dan negeri-negeri orang-orang muslim pada umumnya. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Kuasa atas setiap sesuatu.

Mudah-mudahan Allah menambahkan rahmat ta'dhim pada pemimpin kami Nabi Muhammad, nabi yang buta huruf, pada keluarga dan sahabat beliau dan semoga Allah menambahkan kemanjaan. Dan segala puji milik Allah, Tuhan seru sekalian alam.

ABAH JAZULI

ABAH JAZULI


Al-Quran  yang  secara  harfiah  berarti  "bacaan  sempurna"
merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat,
karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis
baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi
Al-Quran Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu.

Tiada bacaan semacam Al-Quran yang dibaca oleh ratusan juta
orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat
menulis dengan aksaranya. Bahkan dihafal huruf demi huruf
oleh orang dewasa, remaja, dan anak-anak.

Tiada bacaan melebihi Al-Quran dalam perhatian yang
diperolehnya, bukan saja sejarahnya secara umum, tetapi ayat
demi ayat, baik dari segi masa, musim, dan saat turunnya,
sampai kepada sebab-sebab serta waktu-waktu turunnya.

Tiada bacaan seperti Al-Quran yang dipelajari bukan hanya
susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi juga
kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada
kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan
jilid buku, generasi demi generasi. Kemudian apa yang
dituangkan dari sumber yang tak pernah kering itu,
berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan dan
kecenderungan mereka, namun semua mengandung kebenaran.
Al-Quran layaknya sebuah permata yang memancarkan cahaya
yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.

Tiada bacaan seperti Al-Quran yang diatur tatacara
membacanya, mana yang dipendekkan, dipanjangkan, dipertebal
atau diperhalus ucapannya, di mana tempat yang terlarang,
atau boleh, atau harus memulai dan berhenti, bahkan diatur
lagu dan iramanya, sampai kepada etika membacanya.

Tiada bacaan sebanyak kosakata Al-Quran yang berjumlah
77.439 (tujuh puluh tujuh ribu empat ratus tiga puluh
sembilan) kata, dengan jumlah huruf 323.015 (tiga ratus dua
puluh tiga ribu lima belas) huruf yang seimbang jumlah
kata-katanya, baik antara kata dengan padanannya, maupun
kata dengan lawan kata dan dampaknya.

Sebagai contoh -sekali lagi sebagai contoh- kata hayat
terulang sebanyak antonimnya maut, masing-masing 145 kali;
akhirat terulang 115 kali sebanyak kata dunia; malaikat
terulang 88 kali sebanyak kata setan; thuma'ninah
(ketenangan) terulang 13 kali sebanyak kata dhijg
(kecemasan); panas terulang 4 kali sebanyak kata dingin.

Kata infaq terulang sebanyak kata yang menunjuk dampaknya
yaitu ridha (kepuasan) masing-masing 73 kali; kikir sama
dengan akibatnya yaitu penyesalan masing-masing 12 kali;
zakat sama dengan berkat yakni kebajikan melimpah,
masing-masing 32 kali. Masih amat banyak keseimbangan
lainnya, seperti kata yaum (hari) terulang sebanyak 365,
sejumlah hari-hari dalam setahun, kata syahr (bulan)
terulang 12 kali juga sejumlah bulan-bulan dalam setahun.
Demikian

"Allah menurunkan kitab Al-Quran dengan penuh kebenaran
dan keseimbangan (QS Al-Syura [42]: 17)."

Adakah suatu bacaan ciptaan makhluk seperti itu? Al-Quran
menantang:

"Katakanlah, Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk
menyusun semacam Al-Quran ini, mereka tidak akan
berhasil menyusun semacamnya walaupun mereka bekerja
sama" (QS Al-Isra,[17]: 88).

Orientalis H.A.R. Gibb pernah menulis bahwa: "Tidak ada
seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah
memainkan 'alat' bernada nyaring yang demikian mampu dan
berani, dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya,
seperti yang dibaca Muhammad (Al-Quran)." Demikian terpadu
dalam Al-Quran keindahan bahasa, ketelitian, dan
keseimbangannya, dengan kedalaman makna, kekayaan dan
kebenarannya, serta kemudahan pemahaman dan kehebatan kesan
yang ditimbulkannya.

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah, dan
Tuhanmulah yang paling Pemurah, Yang mengajar manusia
dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
belum diketahuinya" (QS Al-'Alaq [96]: 1-5).

Mengapa iqra, merupakan perintah pertama yang ditujukan
kepada Nabi, padahal beliau seorang ummi (yang tidak pandai
membaca dan menulis)? Mengapa demikian?

Iqra' terambil dari akar kata yang berarti "menghimpun,"
sehingga tidak selalu harus diartikan "membaca teks tertulis
dengan aksara tertentu."

Dari "menghimpun" lahir aneka ragam makna, seperti
menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti mengetahui ciri
sesuatu dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak.

Iqra' (Bacalah)! Tetapi apa yang harus dibaca? "Ma aqra'?"
tanya Nabi -dalam suatu riwayat- setelah beliau kepayahan
dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat Jibril a.s.

Pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar
beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut
Bismi Rabbik; dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.

Iqra' berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah
ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman,
sejarah, diri sendiri, yang tertulis dan tidak tertulis.
Alhasil objek perintah iqra' mencakup segala sesuatu yang
dapat dijangkaunya.

Demikian terpadu dalam perintah ini segala macam cara yang
dapat ditempuh manusia untuk meningkatkan kemampuannya.

Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini, bukan
sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh
kecuali mengulang-ulangi bacaan, atau membaca hendaknya
dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan, tetapi
juga untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulangi bacaan
Bismi Rabbika (demi karena Allah) akan menghasilkan
pengetahuan dan wawasan baru walaupun yang dibaca itu-itu
juga.

Mengulang-ulang membaca ayat Al-Quran menimbulkan penafsiran
baru, pengembangan gagasan, dan menambah kesucian jiwa serta
kesejahteraan batin. Berulang-ulang "membaca" alam raya,
membuka tabir rahasianya dan memperluas wawasan serta
menambah kesejahteraan lahir. Ayat Al-Quran yang kita baca
dewasa ini tak sedikit pun berbeda dengan ayat Al-Quran yang
dibaca Rasul dan generasi terdahulu. Alam raya pun demikian,
namun pemahaman, penemuan rahasianya, serta limpahan
kesejahteraan-Nya terus berkembang, dan itulah pesan yang
dikandung dalam Iqra' wa Rabbukal akram (Bacalah dan
Tuhanmulah yang paling Pemurah). Atas kemurahan-Nyalah
kesejahteraan demi kesejahteraan tercapai.

Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling
berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat
manusia. "Membaca" dalam aneka maknanya adalah syarat
pertama dan utama pengembangan ilmu dan teknologi, serta
syarat utama membangun peradaban. Semua peradaban yang
berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab
(bacaan). Peradaban Yunani di mulai dengan Iliad karya Homer
pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya
Kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya
Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel
(1770-1831). Peradaban Islam lahir dengan kehadiran
Al-Quran. Astaghfirullah menunjuk masa akhirnya, karena kita
yakin bahwa ia tidak akan lekang oleh panas dan tidak lapuk
oleh hujan, selama umatnya ikut bersama Allah memeliharanya

"Sesungguhnya Kami (Allah bersama Jibril yang
diperintahNya) menurunkan Al-Quran, dan Kami
(yakni Allah dengan keterlibatan manusia) yang
memeliharanya" (QS Al-Hijr [15]: 9).

Pengetahuan dan peradaban yang dirancang oleh Al-Quran
adalah pengetahuan terpadu yang melibatkan akal dan kalbu
dalam perolehannya. Wahyu pertama Al-Quran menjelaskan dua
cara perolehan dan pengembangan ilmu. Berikut keterangannya.

Setiap pengetahuan memiliki subjek dan objek. Secara umum
subjek dituntut berperan guna memahami objek. Namun
pengalaman ilmiah menunjukkan bahwa objek terkadang
memperkenalkan dirinya kepada subjek tanpa usaha sang
subjek. Komet Halley, memasuki cakrawala, hanya sejenak
setiap 76 tahun. Dalam kasus ini, walaupun para astronom
menyiapkan diri dan alat-alatnya untuk mengamati dan
mengenalnya, tetapi sesungguhnya yang lebih berperan adalah
kehadiran komet itu sendiri untuk memperkenalkan diri.

Wahyu, ilham, intuisi, atau firasat yang diperoleh manusia
yang siap dan suci jiwanya atau apa yang diduga sebagai
"kebetulan" yang dialami oleh ilmuwan yang tekun, kesemuanya
tidak lain kecuali bentuk-bentuk pengajaran Allah yang dapat
dianalogikan dengan kasus komet di atas. Itulah pengajaran
tanpa qalam yang ditegaskan wahyu pertama ini.

"Allah mengajar dengan pena (apa yang telah diketahui
manusia sebelumnya), dan mengajar manusia (tanpa pena)
apa yang belum ia ketahui" (QS Al-'Alaq [96]: 4-5)

Sekali lagi terlihat betapa Al-Quran sejak dini memadukan
usaha dan pertolongan Allah, akal dan kalbu, pikir dan
zikir, iman dan ilmu. Akal tanpa kalbu menjadikan manusia
seperti robot, pikir tanpa zikir menjadikan manusia seperti
setan. Iman tanpa ilmu sama dengan pelita di tangan bayi,
sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri.

Al-Quran sebagai kitab terpadu, menghadapi, dan
memperlakukan peserta didiknya dengan memperhatikan
keseluruhan unsur manusiawi, jiwa, akal, dan jasmaninya.

Ketika Musa a.s. menerima wahyu Ilahi, yang menjadikan
beliau tenggelam dalam situasi spiritual, Allah menyentaknya
dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi material:

"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?"
(QS Thaha [20]: 17).

Musa sadar sambil menjawab,

"Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya dan memukul
(daun) dengannya untuk kambingku, disamping
keperluan-keperluan lain" (QS Thaha [20]: 18).

Di sisi lain, agar peserta didiknya tidak larut dalam alam
material, Al-Quran menggunakan benda-benda alam, sebagai
tali penghubung untuk mengingatkan manusia akan kehadiran
Allah Swt. dan bahwa segala sesuatu yang teriadi -sekecil
apa pun- adalah di bawah kekuasaan, pengetahuan, dan
pengaturan Tuhan Yang Mahakuasa.

"Tidak sehelai daun pun yang gugur kecuali Dia
mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam
kegelapan bumi, tidak juga sesuatu yang basah atau
kering kecuali tertulis dalam Kitab yang nyata (dalam
jangkauan pengetahuannya)" (QS Al-An'am [6]: 59).

"Bukan kamu yang melempar ketika kau melempar, tetapi
Allah-lah (yang menganugerahkan kemampuan sehingga)
kamu mampu melempar" (QS Al-Anfal [8]: 17).

Sungguh, ayat-ayat Al-Quran merupakan serat yang membentuk
tenunan kehidupan Muslim, serta benang yang menjadi rajutan
jiwanya. Karena itu seringkali pada saat Al-Quran berbicara
tentang satu persoalan menyangkut satu dimensi atau aspek
tertentu, tiba-tiba ayat lain muncul berbicara tentang aspek
atau dimensi lain yang secara sepintas terkesan tidak saling
berkaitan. Tetapi bagi orang yang tekun mempelajarinya akan
menemukan keserasian hubungan yang amat mengagumkan, sama
dengan keserasian hubungan yang memadukan gejolak dan
bisikan-bisikan hati manusia, sehingga pada akhirnya dimensi
atau aspek yang tadinya terkesan kacau, menjadi terangkai
dan terpadu indah, bagai kalung mutiara yang tidak diketahui
di mana ujung pangkalnya.

Salah satu tujuan Al-Quran memilih sistematika demikian,
adalah untuk mengingatkan manusia -khususnya kaum Muslimin-
bahwa ajaran-ajaran Al-Quran adalah satu kesatuan terpadu
yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
(bersambung 2/2)